Senin, 05 November 2012

KARAKTEROLOGI

            Karakter adalah bentuk organisasi dari kehidupan perasaan, pengenalan dan kehendak yang diarahakan pada sistem nilai, dan diekspresikan dengan relatif konsekuen pada pencapaian nilai-nilai yang ingin dicapai. Dan sebelum kita sampai pada pembahasan secara mendetail mengenai masalah karakter tersebut, baiklah kita sejenak membahas: sejarah, arti dan nilai dari karakterologi.             
1.      Arti dan Nilai dari Ilmu Watak / Karakterologi.

Karakterologi atau ilmu/ajaran mengenai watak, yang selama periode 10 tahun terakhir ini semakin berkembang dengan pesatnya. Hal ini disebabkan, karena pengetahuan yang berusia sangat muda tersebut di samping memiliki nilai-nilai teoritis, juga mempunyai nilai praktis yang besar sekali bagi kehidupan sehari-hari. Perisiwa ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.       Setiap relasi sosial (perjumpaan, kontak, konvensi sosial, kesatuan, dan seterusnya) sedikit atau banyak secara praktis pasti menuntut penggunaan pengetahuan menge­nai karakter, untuk mendapatkan: kerja-sama yang baik, memperoleh saling pengertian dan mendapatkan reso­nansi-psikis (gema jawaban psikis) yang baik.
b.        Khususnya para pedagog, dokter-dokter, ahli hukum, jak­sa dan hakim, para pemimpin agama dan manajer-mana­jer perusahaan yang erat berkaitan dengan kelompok dan individu-individu yang harus "dibimbingnya", memer­lukan pengetahuan mengenai karakter manusia. Tersistimewa psikologis praktis sangat memerlukan petunjuk-petunjuk yang bisa diberikan oleh karakterologi. Misalnya psikologi-psikologi pedagogis, medis, kriminal, pastoral dan psiko-teknik memerlukan sekali petunjuk dan pengarahan yang bisa disumbangkan oleh karakterologi

Oleh karena karakterolog itu merupakan djsiplin ilmu yang masih sangat muda, maka dalam terrninoloqinva ba­hyak terdapat perbedaan atau ketidaksamaan dalarn peng­ungkapan istilah. Istilah "temperamen dan karakter" misal­nya, sering ditafsirkan oleh beberapa .karakterolog (ahli mengenai watak) secara berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dalarn pendirian dan titik ­tolak berpikir mereka. Misalnya saja, seorang biolog akan menafsirkan "karakter" secara berbeda jika dibandingkan de­ngan penafsiran seorang psikiater.
2.      Sejarah Karakterologi.
Sepanjang sejarahnya, orang mengadakan pembagian nengenai aspek-aspek karakter menurut dua cara, yaitu :
            
                            I.               Tipologi Berdasarkan Relasi Akrab antara Sifat-Sifat Psikis dan Fisis.
A.        Ajaran Temperamen (pembagian fisiologis) dipelopori oleh Hippokrates (± 400 sebelum M) dan Galenus (± 175 sesudah M).
Pembagian fisiologis ini disebabkan oleh pengaruh carnp­uran dari macam-macam cairan yang ada di badan rnanusia, yang mempunyai efek pengaruh terhadap kepribadian. Orang membedakan empat cairan badan. Berkuasa atau dominasinya salah satu dari keempat cairan tersebut berpengaruh besar terhedap konstitusi psikis manusia. Sehubunqan derrqan ini sampailah orang pada empat tipe, yaitu : 
  1. Sanguinikus : dominasi dari darah merah (sanguis). Orangnya bersifat gembira, lincah rencah. 
  2.  Flegmattikus : dominasi dari lendir putih (flegma). Individunya bersifat tenang, tidak mudah bergerak 
  3. Kholerikus : dominasi dari .ernpedu kuning (chole). Orangnya bersifat garang, hebat, bengis, mudah marah 
  4. Melankholiku : dominasi dari empedu hitam  (melanchole). Orangnya bersifat pesimistis, bengis, muram.
(  Tipe temperamen dari Galenius )
       Dikemudian harinya, tipologi ini dikembangkah secara murni . psikolagis. Khususnya orang menitikberatkan masa­lah emosionalitas, yaitu mencakup kekuatan dan lama ber­langsungnya perasaan-perasaan.
Sarjana Kant kemudian mengoper pembagian ini. Aspek­aspek jasrnaniahnva dikaitkan dengan keadaan darah; sedang aspek psikisnya dikaitkan dengan emosionalitas (bersifat psikis/jiwani) dan aktifitas (bersifat jasmani). Kemudian sar­jana Wundt juga mengoper pembagian tersebut di atas, dan mendasarkannya pada unsur
(1) emasionalitas dan
(2) penga­ruh dari emosi-emosi.
B.     Physiognomy, Phrenology dan Graphology
Ketiganya berkembang pada abad ke-18. Ketiga ajaran ini mengemukakan adanya relasi yang akrab di antara ciri-ciri jasrnaniah dengan ciri rohaniah (jiwani, psikis). Walaupun ajaran ini tidak mengemukakan tipologi tertentu, namun ke­tiga-tiganya menyajikan banyak material yang berguna bagi karakterologi.
Fisiognomi/physiognomy atau ilmu wajah. Bentuk dan pe­narnpilan wajah seseorang itu rnerefleksikan ciri-ciri tertentu. Sarjana Lavater mengernukakan, bahwa dahi dan kening (alis mata) itu memberikan indikasi-indikasi tertentu mengenai inteligensi atau akal budi seseorang. Hidung dan pipi mencerminkan  kehidupan moral dan Kehidupan emosional. Mulut dan dagu merefleksikan kehidupan animal. Sedang ma­ta merupakan cermin dari segenap kehidupan psikis sesorang. Karya Lavater ini lebih banyak didasarkan pada intuisi daripada penelitian eksperimental.
Frenologi/phrenology disebut pula sebagai ajaran untuk mengetahui sifat-sifat psikis seseorang dengan melihat ben­tuk kepalanya. Ilmu ini antara lain dikembangkan oleh F.J. Gall. Karena sifatnya kurang ilmiah, ilmu tersebut kurang bisa berkernbanq pada saat ini.
Grafologi/graphology ialah ilmu tulisen tangan. Dengan melihat tulisan seseorang, kita berusaha mempelajari sifat­-sifat dan karakternya. llmu ini antara lain dikembangkan oleh Lavater dan L. Klages.

                         II.               Tipologi Khusus Berdasarkan Ciri-Ciri Psikis
A.    Tipologi Plato ( ± 400 s.M).
Plato membedakan tiga "bagian" dari jiwa manusia, yaitu:
a.       Akal budi/pikiran, berlokasi di kepala; "bagian" ini dikait­kan dengan kebijaksanaan atau kearifan.
b.      Kernauan/kehendak, berlokasi di dada; dikaitkan dengan keberanian.
c.       Nafsu/gairah, berlokasi di tubuh bagian bawah; dikaitkan dengan penguasaan diri.
Maka harmoni dari ketiga "bagian" dan ketiga kebajikan ini menjuruskan manusia kepada Kebenaran-keadilan.
Pembagian dari Plato ini bisa kita sebutkan sebagai tipologi, karena adanya dominasi dan akal, kemauan atau nafsu. Munculah pembagian karakter manusia atas dasar psikologis, yaitu sebagai berikut :
Tipe karakter
Kedudukan
1. Tipe berakal budi
Para penguasa dan para bupati.
2. Tipe kemauan
Penqawal dan pegawai negeri.
3. Tipe nafsu/karsa.
Pekerja, buruh.









B.     Tipologi dari Queyrat
Dalarn bukunya "Les caracteres et I'education morale" (Karakter dan pendidikan moral), sarjana Perancis ini mern­buat pembagian karakter berdasarkan tiga aspek dari kehi­dupan psikis, yaitu:
(a) segi kognitif atau pengenalan;
(b) segi emosiona/ atau perasaan,
(c) segi konatif atau kemauan.
Jadi pembagian tipe karakter menurut Oueyrat adalah sebagai berikut :
1)      Manusia akal budi/pikir : dominasi dari un sur kognitif atau akal budi.
2)      Manusia perasaan : dominasi dari perasaan.
3)                  Manusia kemauan : dominasi dari kemauan, rnanusia suka aktif bertindak.
Pembagian tersebut di atas menjadi semakin kompleks, ka­rena Oueyrat membaginya lagi sebagai berikut :
1)      Ada tiga kelompok, di dalam mana dua fungsi berkuasa secara berbareng, yaitu: akal + perasaan; akal + per­buatan; perasaan + perbuatan.
2)      Tiga kelompok, di dalam mana ketiga-tiga fungsinya ber­kuasa, yaitu: ketiga-tiganya kuat dominan, ketiga-tiganya sedang sifatnya; dan ketiga-tiganya lemah sifatnya.
3)      Tiga kelompok, di dalam mana ketiga fungsi tersebut di atas tampil secara tidak teratur.

3.    Pengaruh Psikologi-Totalitas dan Psikiatri Kepada Karakterologi
Berbeda dengan psikologi kuno yang disebut sebagai psi­kologi elemen (karena melihat kehidupan psikis manusia se­agai elernen-elernen yang berfungsi secara otonom terlepas satu sama lain). maka psikologi totalitas yang modern memandang jiwa manusia itu sebagai totalitas. Dan kehidupan psikis itu tidak merupakan penjumlahan dari sekumpulan ba­gian-bagian yang elementer. Pandangan totalitas ini juga mempengaruhi karakterologi dan teori kepribadian. Maka kepribadian manusia itu merupakan satu totalitas utuh yang tak bisa dipisah-pisahkan.
Salah satu metode dari psikologi-totalitas juga memper­tanyakan masalah nilai-nilai yang dianut oleh pribadi. Sebab, ?fa manusia itu merupakan satu struktur, yaitu satu totalitas yang berart/lbernilai mengarah kepada pelaksanaan-perwu­judan dari nilai-nilai. Jadi, jiwa manusia itu merupakan faktor ri satu totalitas-nilai.
Selanjutnya psikiatri, yaitu ajaran mengenai penyakit jiwa dan cara penyernbuhannya, juga memberikan pengaruh yang sangat besar kepada karakterologi dan teori kepribadian. Dinyatakan, bahwa ciri-ciri khas dari karakter pada pen­derita-penderita penyakit jiwa .itu tampak lebih kuat dan lebih menonjol daripada ciri-ciri karakter individu yang normal. Se­babnya ialah: rem-rem psikis (mekanisme pengerem) pada para pasien sakit jiwa itu tidak ada, hilang, atau harnpir-harn­pir tidak berfungsi sama sekali. Hal ini menyebabkan ciri-ciri khas dari karakter dan sifat-sifatnya itu tampak lebih jelas, dan lebih diperkuat, lebih spontan, lebih primitif, tanpa kamuflase/samaran, dan lebih asli. Ringkasnya cri-ciri tersebut tampak lebih tegas, lebih menonjol dengan intensitas lebih besar pada para pasien sakit jiwa, jika dibandingkan dengan ciri-ciri yang terdapat pada orang-orang normal.
Maka informasi-informasi yang diberikan oleh para pen­derita penyakit jiwa itu bisa memberikan keterangan yang lebih jelas mengenai kondisi kejiwaan orang normal.
Karena karakter dan kepribadian manusia itu merupakan masalah yang kompleks sekali, maka pembagian dan pema­.haman mengenai kepribadian manusia dilihat dari dua atau tiga cirinya saja, pasti tidak akan memberikan wawasan yang memuaskan. Oleh karena itu. pemahaman karakter manusia itu harus dipelajari dan bermacam-macam titik-pandangan dan teori-teori yang berbeda, sehingga aspek-aspek diferen diferensiasinya akan muncul lebih banyak dan bisa dipelajari dengan lebih cermat.

4.      Karakterologi Baru
Ada perbedaan yang menyolok di antara psikologi lama/kuno dengan psikologi-totalitas yang modern. Psikologi modern menganggap jiwa itu sebagai satu totalitas. Jadi, kehi­dupan jiwani itu bukan merupakan penjumlahan dari sekian banyaknya bagian-bagian elementer. Pertentangan semacam ini juga terdapat dalam kerekteroloqi, yaitu ajaran atau ilmu yang mempelajari karakter atau watak manusia.
Jelas, bahwa karakter manusia itu harus dilihat sebagai satu kesatuan atau satu totalitas yang tidak bisa dipisah-pi­sahkan satu sama lain. Maka L. Klages, seorang karakterolog Jerman, dalam bukunya "Grundlagen der Cberekterkunde" menitik beratkan rnasalah kesatuan dari kepribadian rnanusia. Juga, psikologi totalitas tersebut antara lain mempertanya­kan masalah: apakah nilai-nilai yang dianut oleh pribadi ter­sebut, dan apakah yang memberikan pengarahan pada dirinya.
Sekali lagi, bagi banyak karakterologi, azas dasar terpen­ting dari pembagian karakter manusia itu ialah: hubungan AKU terhadap dunia luar. Hubungan tersebut menjadi salah satu ciri yang terpenting dari kepribadian manusia.
Sarjana-sarjana C. G. Jung; F. Kunkel, E. Kretschmer dan W. Jaensch, walaupun berangkat dari pandangan yang ber­beda dan menggunakan metode yang bermacam-macam pul­a, sernuanya memikirkan tipologi-tipologi yang pada ta­rgan. Yaitu menyatukan diri dengan dunia dan memisahkan diri dari dunia sekitarnya. Polaritas tadi kita gambarkan dengan skema di bawah ini.
Nama Sarjana
Menyatukan diri dengan dunianya
Memisahkan diri dengan dunianya
Jung
Tipe ekstrovert
Tipe introvert
Kunkel
Tipe sachlich (mengait urusan dunia, “Zakelijk)
Tipe inchafte (pelekatan pada Aku-nya)
Kretschemer
Tipe cyclothyme (beredar, berputar)
Tipe yang schizothyme
Jaensch
Tipe basedoide
Tipe tetanoide

Orang berpendapat, bahwa ciri-ciri pokok dari karakter pada orang-orang yang menderita penyakit jiwa itu lebih tam­pak menonjol, jika dibandingkan dengan ciri-ciri pada orang normal. Pada para penderita penyakit jiwa, rem-rem psikis itu hilang, sehingga ciri-ciri karakternya tampil lebih menyolok; jadi ada pembesaran ekspresi: Dengan kata lain, sifat-sifat­nya tampil lebih jelas, lebih prirnitif, tidak terkamuflase (tan­pa tedeng aling-aling) dan dengan intensitas lebih besar. De­ngan begitu, ciri dan sifat-sifat yang lebih tampak menonjol itu bisa memberikan keterangan yang lebih jelas mengenai ci­ri-ciri orang normal.·
Ringkasnya karakterologi, yaitu ilmu yang mempelajari masalah karakter manusia itu mengupas masalah yang sa­ngat kompleks. Sehingga dengan pembagian karakter menu­rut dua atau tiga sifat-sifat yang fundamental saja, orang ti­dak akan mampu membahas totalitas karakter rnanusia. Ma­ka, jika karakterologi ingin melandaskan diri pada kehidupan nyata, seharusnya juga memperhatikan masalah faset-faset karakter dari bermacam-macam segi pandangan.

2 komentar:

  1. Casino Review & Bonus Code for JTG - MissouriHub.com
    Learn more about 원주 출장샵 Casino Rewards and find a list of the casinos that 김천 출장안마 offer it! 충주 출장샵 The casino offers the full game library, including video 순천 출장마사지 slots, blackjack, and poker. 태백 출장마사지

    BalasHapus